Kamis, 14 April 2011

Tips Memompa Kemauan

,
Pada dasarnya setiap orang bias nmenemukan sendiri jalan untuk memompa kemauannya. Namun untuk memudahkan, sebaiknya anda mencoba beberapa cara. Jika anda disiplin, target yang anda tetapkan bias tercapai. Nih coba simak 10 Tips memompa kemauan, checkidot… :
1. Fokuskan perhatian pada apa yang anda milik. Maksudnya, daripada anda sibuk memikirkan apa yang tidak anda miliki, mengapa tidak anda coba untuk memfokuskan perhatian pada apa yang anda punyai dan mulai memikirkan bagaiman memberdayakan apa yang anda miliki tersebut.

2. Bangga saat melakukannya. Apapun target anda, semua itu bisa dicapai dengan melakukan hal tersebut dengan bangga dan lakukanlah dengan satu persatu, dan jangan terpaku pada panjangnya jalan yang belum anda selesaikan, kalau perlu hadiahi diri sendiri bila anda berhasil melampaui satu tahapan dengan sukses.

3. Buat target yang mudah. Lebih baik membuat sejumlah target kecil yang bias diraih dengan mudah ketimbang mentargetkan target yang berat. Karena, biasanya target yang berat membuat hati ciut, sedangkan target kecil hanya membutuhkan lebih sedikit kemauan dari pada target yang besar.

4. Bila selama ini kemauan anda belum pernah teruji, sebaiknya jangan memilih target yang member perubahan besar pada anda. Membangun kemauan sama seperti membangun otot. Karena itu anda perlu melakukan hal-hal biasa yang tak membutuhkan banyak usaha. Seperti selalu mematikan keran bila anda selsai mandi. Mematikan lampu bilai hari sudah terang, dan jangan makan di depan televisi.

5. Jangan mematok target berlebihan.Buatlah target sesuai dengan kemampuan diri anda, jangan membuat target yang muluk-muluk dan jangan terlalu rendah juga.

6. Pastikan target itu memang impian anda. Tanyakan pada diri sendiri, apakah target ini memang anda inginkan atau hasil paksaan orang lain. Karena , akan sulit maju jika target itu tidak dating dari diri sendiri.

7. Buat rencana. Ambil waktu untuk merencanakan bagaimana anda bisa mencapai target yang telah ditentukan. Cobalahj menemukan beberapa cara untuk meraihnya. Dua pilihan lebih baik dari pada satu Tetapi jangan membuat terlalu banyak rencana, karena nantinya malah bias membingungkan.

8. Sampaikan pada teman. Kita cendrung menutupi rencana kita dari orang lainkarena khawatir orang akan mengejek bila target kita tak tercapai. Sayangnya usaha melindungi diri sendiri, justru membuat kemauan melemah. Karena dengan menyampaikan rencana dan target kita pada orang lain, efek yang anda rasakan justru menambah kekuatan si kemauan.

9. Jangan memaksakan diri. Bilai di tengah proses anda merasa bosan dan mandek, berhentilah sejenak. Beri kesempatan pada diri anda untuk beristirahat. Tetapi setelah itu jangan lupa untuk segera kembali lagi melakukan hal-hal yang diperlukan.

10. Istirahatlah. Berhenti sesaat bukan berarti anda llemah, malsa atau tak disiplin. Melainkan, sebenarnya anda tengah berada dalam proses memutus kebiasaan buruk dan menggantinya dengan yang baru. Jadi jangan terburu berputus asa.
Nah…dengan tips di atas, semoga kemauan anda bukan lagi sekedar kemauan. Melainkan dapat berubah menjadi tindakan nyata yang akan membantu anda mewujudkan kesuksesan. Pompa terus semangat anda untuk mencapai hal-hal yang anda inginkan!!


Sumber Referensi : www.astaga.com

READ MORE - Tips Memompa Kemauan

Anugerah Gratis

,

Salah satu anugerah dari tuhan kepada manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain adalah akal. Setiap manusia di beri kemampuan yang khas yang membuatnya dapat mengembangkan diri untuk mengolah alam ciptaan Tuhan Kemapuan khas itu adalah kecerdasan, sebuah “anugerah gratis” yang luar biasa dari Tuhan bagi manusia.
Mungkin kita sering mendengar istilah otak kiri dan otak kanan. Dimana dalam buku Quantum Learning(Potter 7 Hernacki,2003) dijelaskan bahwa kedua sisi otak tersebut sebenarnya tersusun atas tiga bagian, yaitu batang otak atau reptilian, system limbic atau otak mamalia dan neokorteks atau otak berfikir. Dimana masing-masing belahan bertanggung jawab terhadap cara berfikir dan masing-masing memiliki spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada persilangan dan interaksi antarsisi. Sebagai contoh, otak kiri mengatur gerak tangan dan kaki sebelah kanan.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa otak kiri bersifat logis, sekuensial. Linear dan rasional. Sisi ini sangat teratur, namun juga mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Sedangkan cara berfikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistic. Cara berfikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non verbal, seperti perasaan dan emosi.
Aktifitas belajar atau mengerjakan tugas akan menjadi lebih baik jika kemapuan kedua bagian otak dioptimalkan, dengan menyeimbangkan kerja otak kiri dan otak kanan. Misalnya kita perlu memasukkan unsure music ndan estetika dalam pengalaman belajar Hal ini akan bias menimbulkan emosi positif, yang akhirnya akan membuat kerja otak kita lebih efektif. Karena emosi positif akan mendorong kekuatan otak dan mendorong pencapaian prestasi.





Sumber referensi : buku bacaan “Bimbingan dan Konseling SMA” karangan B.Renita Mulyaningtyas dan Yusup Purnomo Hadiyanto.

READ MORE - Anugerah Gratis

Kamis, 13 Januari 2011

Kemiskinan

,

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal sepanjang sejarah Indonesia sebagai nation state, sejarah sebuah negara yang salah memandang dan mengurus kemiskinan. Dalam negara yang salah urus, tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas. Kemiskinan, menyebabkan masyarakat desa rela mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, safety life (James. C.Scott, 1981), mempertaruhkan tenaga fisik untuk memproduksi keuntungan bagi tengkulak lokal dan menerima upah yang tidak sepadan dengan biaya tenaga yang dikeluarkan. Para buruh tani desa bekerja sepanjang hari, tetapi mereka menerima upah yang sangat sedikit.
Pendek kata, kemiskinan merupakan persoalan yang maha kompleks dan kronis. Karena sangat kompleks dan kronis, maka cara penanggulangan kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan semua komponen permasalahan, dan diperlukan strategi penanganan yang tepat, berkelanjutan dan tidak bersifat temporer. Sejumlah variabel dapat dipakai untuk melacak persoalan kemiskinan, dan dari variabel ini dihasilkan serangkaian strategi dan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan berkesinambungan.
Selama ini, kebijakan penanggulangan kemiskinan, didesain secara sentralistik oleh pemerintah pusat yang diwakili BAPPENAS. BAPPENAS merancang program penangulangan kemiskinan dengan dukungan alokasi dan distribusi anggaran dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan utang kepada Bank Dunia serta lembaga keuangan mmultinasional lainnya. Berkat alokasi anggaran yang memadai, pemerintah pusat menjalankan kebijakan sentralistik dengan program-program yang bersifat karitatif. Sejak tahun 1970-an di bawah kebijakan economic growth sampai dengan sekarang, pemerintah pusat menjadikan desa sebagai obyek dari seluruh proyek yang dijalankan untuk menanggulangi kemiskinan.

Berdasarkan kebijakan tersebut, pemerintah pusat menjalankan program-programnya dalam bentuk: (1) menurunkan jumlah persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan melalui bantuan kredit, jaminan usaha dan pengadaan sarana dan prasarana di desa seperti PUSKESMAS, INPRES, KUD, dan sebagainya; (2) mengusahakan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat miskin melalui distribusi sembako yang dibagikan secara gratis kepada penduduk miskin; (3) mengusahakan pelayanan kesehatan yang memadai dengan menyebarkan tenaga-tenaga kesehatan ke desa dan pengadaan obat-obatan melalui PUSKESMAS; (4) mengusahakan penyediaan fasilitas pendidikan dasar dengan memperbanyak pendirian sekolah-sekolah INPRES; (5) menyediakan kesempatan bekerja dan berusaha melalui proyek-proyek perbaikan sarana dan prasarana milik pemerintah, penyediaan kredit dan modal usaha yang diberikan dalam bentuk pinjaman kepada masyarakat miskin; (6) memenuhi kebutuhan perumahan dan sanitasi dengan memperbanyak penyediaan rumah-rumah sederhana untuk orang miskin; (7) mengusahakan pemenuhan air bersih dengan pengadaan PAM; (8) menyediakan sarana listrik masuk desa, sarana telekomunikasi dan sejenisnya; dan sebagainya. Berbagai program yang dijalankan oleh pemerintah tersebut, lebih banyak menuai kegagalan dibandingkan dengan keberhasilannya.
Dilihat dari kegagalan program penanggulangan kemiskinan selama ini, strategi dan kebijakan alternative menanggulangi kemiskinan desa dapat dilakukan dengan cara :
(1)Memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat desa untuk memperoleh layanan pendidikan yang memadai, secara gratis dan cuma-cuma.
(2)Redistribusi lahan dan modal pertanian yang seimbang.
(3)Memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat miskin yang terbelakang dengan system layanan kesehatan gratis dan memperbanyak PUSKESMAS dan unit-unit layanan kesehatan lainnya.
(4)Memperkuat komitmen eksekutif dan legislatif untuk memperbaiki tatanan pemerintahan.
(5)Mendorong agenda pembangunan daerah yang memprioritaskan pemberantasan kemiskinan sebagai skala prioritas utama.

Berbagai program dan kebijakan penanggulangan kemiskinan tersebut, membutuhkan usaha yang serius untuk melaksanakannya. Disamping itu diperlukan komitmen pemerintah dan semua pihak untuk melihat kemiskinan sebagai masalah fundamental yang harus ditangani dengan baik, berkelanjutan dan dengan dukungan anggaran yang jelas.

Sumber Referensi : http://www.ekonomirakyat.org/edisi_22/artikel_6.htm

READ MORE - Kemiskinan

Pertentangan Sosial

,
Sebagian dari akar permasalahan dari pertentangan sosial adalah kondisi sosial-ekonomi-politik, tingkat pendidikan, tingkat pendalaman agama, terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis, lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa, yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Ini telah menjadi cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Konflik
sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon, Sambas, atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru, yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila.

Akar permasalahan Mencermati berbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini, beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya.Pertama, kondisi sosial-ekonomipolitik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruhmemanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya, baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Kedua, tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihakpihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Ketiga, tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Lebih jauh, kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama.

Akibat lebih jauh dari pertentangan social dimasyarakat ini adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Untuk mengantisipasi kondisi itu, di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinyauntuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Selain itu, perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Ini bisa diperkuat di sekolah. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid. Oleh karena itu kita harus memupuk rasa solidaritas kita guna menciptakan kehidupan yang damai dan rukun, seperti halnya yang tercantum pada Pancasila point ke 2, yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, seharusnya hal tersebutlah yang harus kita jadikan pedoman.


Sumber referensi :

http://educare.e-fkipunla.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=6

READ MORE - Pertentangan Sosial

Kamis, 09 Desember 2010

Masyarakat Perkotaan VS Masyarakat Pedesaan

,
Pertama kita akan membahas pengertian dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat menurut Paul B. Horton & C. Hunt merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut,. Dari penjabaran tentang masyarakat secara umum tadi, sekarang kita akan membahas tentang masyarakat lebih spesifik lagi, dan kita membaginya kedalam Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan. Kedua-duanya memiliki definisinya masing-masing. Masyarakat Perkotaan(Urban Community) didefinisikan lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan Masyarakat Pedesaan. Kita ambil contoh tentang perubahan-perubahan social dan budaya, jika di kota, kita lebih terbuka menerima pengaruh-pengaruh social ataupun budaya dari luar, sedangkan di desa, mereka lebih tertutup dan menjunjung tinggi nilai adat yang mereka percayai.

Ada beberapa cirri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, diantaranya :

1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.

3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.

4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.

5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.

6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.

Sementara itu di pedesaan masyarakatnya memiliki ciri-ciri :

•Memiliki pergaulan hidup yang saling kenal mengenal.
•Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
•Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum dan sangat dipengaruhi kondisi alam seperti : iklim,keadaan, kekayaan alam.
•Sistem kehidupannya berkelompok
•Termasuk masyarakat yang homogen dalam hal mata pencaharian, agama, adat- istiadat.
•Homogenitas Sosial, hubungan primer serta control social yang ketat
•Gotong-royong
•Dan magis serta religius

Dalam kenyataan social, banyak masyarakat pedesaan mengadu nasib di ibu kota, mereka beranggapan jika ingin sukses dan berhasil harus bekerja di ibu kota, dan kebanyakan dari mereka hanya bermodal keinginan yang kuat dan modal nekat saja. Dan akhirnya, kebanyakan dari mereka justru mengalami hal yang berlawanan dengan apa yang mereka impi-impikan, seperti menjadi gelandangan, pemulung bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak kuat melwan ganasnya kehidupan di perkotaan.Sesungguhnya anggapan mereka itu salah, sebenarnya menurut saya peluang kerja bagi mereka didesa itu lebih besar, misalkan mereka bisa bercocok tanam dan beternak , karena disana masih banyak lahan yang bias dimanfaatkan sebagai lading penghidupan mereka. Dibandingkan mereka berkelana ke kota dengan tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan dikota, lebih baik mereka tetap didesa dan karena peluang mereka lebih besar didesa.Dimana kita ketahui bahwa kehidupan dikota itu lebih individualis, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, bagaimana untuk bias bertahan di ibukota ini, yang katanya lebih kejam dibandingkan ibu tiri. Berbeda dengan masyarakat yang tinggal didesa, mereka lebih cooperative atau lebih mengutamakan gotong-royong, yang merupakan ciri-ciri dari masyarakat Indonesia yang sesungguhnya.




Sumber referensi :
http://definisi-pengertian.blogspot.com/2010/06/pengertian-masyarakat-perkotaan.html
http://organisasi.org/pengertian-masyarakat-unsur-dan-kriteria-masyarakat-dalam-kehidupan-sosial-antar-manusia

READ MORE - Masyarakat Perkotaan VS Masyarakat Pedesaan

Rabu, 01 Desember 2010

Pelapisan Sosial(Stratifikasi Sosial)

,
Apa itu pelapisan sosial ? Pelapisan sosial itu sendiri memiliki pengertian pembedaan atau pengelompokan warga Negara atau anggota masyarakat secara bertingkat. Seperti yang diungkapakan oleh Pitrim A.Sorokin mengenai pelapisan social, dia berpendapat bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat dengan perwujudannya adalah lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan lapisan-lapisan di bawahnya. Hal atau faktor yang mempengaruhi adanya pelapisan sosial tersebut diantaranya adalah :
• Kekayaan
Kekayaan dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat kedalam lapisan social, dimana barang siapa yang memiliki harta kekayaan yang banyak dan melimpah maka mereka akan termasuk kedalam lapisan teratas dalam system pelapisan social. Sebaliknya, jika tidak mempunyai kekayaan maka akan digolongkan kedalam lapisan terendah.
• Kekuasaan dan Wewenang
Seseorang yang mempunyai wewenang dan kekuasaan paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan social.
• Ukuran Kehormatan
Orang yang disegani atau orang yang dihormatkan menempati lapisan atas dalam system pelapisan social, hal ini terlepas dari ukuran kekayaan ataupun kekuasaan.
• Ilmu Pengetahuan
Jika kita memiliki Ilmu pengetahuan yang tinggi akan menempati lapisan atas juga di dalam system pelapisan social, pengetahuan ini biasanya terdapat dalam suatu gelar akademik, seperti doctor, insinyur, professor.

Padahal yang kita ketahui bahwa di mata hukum setiap warga Negara memiliki derajat yang sama, baik itu gelandangan ataupun seorang presiden sekalipun, di mata hukum mereka tetap sama atau sederajat, seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar pasal 27 ayat 1. Jadi, menurut saya seharusnya penggolongan tersebut harus di tiadakan, karena pada umumnya Negara kita, yaitu Indonesia lebih memaknai persamaan hidup berdasarkan cultural yang berdasarkan adat-istiadat, bukan terhadap kekayaan, kekuasaan, kehormatan ataupun Ilmu pengetahuan. Karena Indonesia itu satu, bukan terbagi-bagi atas golongan tinggi atau golongan rendah yang ada hanyalah perbedaan kultur adat-istiadat dimana dari perbedaan kultur inilah Indonesia terbentuk dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, dan semboyan inilah yang harus kita tanam sejak dini di dalam hati kita.






Sumber referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Stratifikasi_sosial

READ MORE - Pelapisan Sosial(Stratifikasi Sosial)
 

Usman_blog's Copyright © 2011 -- Template created by Usman Gumanti -- Powered by Blogger Templates